RSS Feed

Chat with Me
Nov 28

Daik Lingga

Melayu  Add Comment

Daik (Bekas Pusat Kerajaan Riau Lingga)

Daik, dahulunya hampir selama seratus tahun menjadi pusat kerajaan Riau-Lingga, sekarang menjadi ibu kota Kecamatan Lingga, Kabupaten Kepulauan Riau.

Kota Daik yang terletak di sungai Daik, hanya dapat dilalui perahu atau kapal motor di waktu air pasang. Kalau air surut, sungai Daik mengering dan tak dapat dilalui. Perhubungan lainnya adalah melalui jalan darat ke desa Resun di sungai Resun. Dari sana melalui sungai itu terus ke muara (Pancur) yang terletak di pantai utara pulau Lingga, berseberangan dengan Senayang.

Selama seratus tahun Daik menjadi pusat kerajaan, tentulah terdapat berbagai peninggalan sejarah dan sebagainya. Raja-raja kerajaan Riau-Lingga yang memerintah kerajaan selama periode pusat kerajaan di Daik Lingga yaitu : Sultan Abdurakhman Syah (1812-1832), Sultan Muhammad Syah (1832-1841), Sultan Mahmud Muzafar Syah (1841-1857), Sultan Sulalman Badrul Alam Syah II (1857-1883) dan Sultan Abdurrakhman Muazzam Syah (1883-1911).

Mesjid Jamik Daik

Mesjid Jamik terletak di kampung Darat, Daik Lingga, dibangun pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Riayat Syah (1761-1812) pada masa awal beliau memindahkan pusat kerajaan dari Bintan ke Lingga. Sumber tempatan menyebutkan bahwa bangunan mesjid ini dimulai sekitar tahun 1803, dimana bangunan aslinya seluruhnya terbuat dari kayu. Kemudian setelah Mesjid Penyengat selesai dibangun, maka bangunan Mesjid Jamik ini dirombak dan dibangun lagi dari beton.

Mesjid ini di dalam ruang utamanya tidaklah mempergunakan tiang penyangga kubah atau lotengnya. Pada mimbarnya terdapat tulisan yang terpahat dalam aksara Arab-Melayu (Jawi), berisi : “Muhammad SAW. Pada 1212 H hari bulan Rabiul Awal kepada hari Isnen membuat mimbar di dalam negeri Semarang Tammatulkalam.” Tulisan ini memberi petunjuk, bahwa mimbar yang indah ini dibuat di Semarang, Jawa Tengah dengan memasukan motif-motif ukiran tradisional Melayu.

Bekas Istana Damnah

Yang tersisa dari bangunan yang dahulunya sangat megah ini hanyalah tangga muka, tiang-tiang dari sebahagian tembok pagarnya yang seluruhnya terbuat dari beton. Sekarang puing istana ini terletak dalam hutan belantara yang disebut kampung Damnah.

Istana Damnah didirikan oleh Raja Muhammad Yusuf AI-Ahmadi, Yang Dipertuan Muda Riau X (1857-1899). Dalam tahun 1860 olehnya didirikan istana Damnah untuk kediaman Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah II, dimana sebelumnya Sultan ini di Istana Kota Baru tak berjauhan dari pabrik sagu yang didirikannya.

Gedung Bilik 44

Yang disebut gedung bilik 44 adalah pondasi gedung yang akan dibangun oleh Sultan Mahmud Muzafar Syah. Gedung ini baru dikerjakan pondasinya saja karena Sultan keburu dipecat Belanda tahun 1812. Lokasinya terletak di lereng gunung Daik.

Walaupun gedung ini belum sempat berdiri, tetapi dari pondasinya yang berjumlah 44 itu sudah dapat kita bayangkan betapa besarnya minat Sultan Mahmud untuk membangun negerinya. Di gedung ini, menurut rencana Sultan akan ditempatkan para pengrajin yang ada di kerajaan Riau-Lingga, supaya mereka dapat bekerja lebih tenang serta mengembangkan keahliannya. Namun cita-cita Sultan Mahmud terkandas oleh penjajah asing.

Kubu Pertahanan

Daik sebagai pusat kerajaan Riau-Lingga tentulah memerlukan pengawalan ketat. Perairan selat Malaka yang masa silam selalu ramai dengan desingan peluru dan asap mesiu. Untuk menjaga berbagai kemungkinan dalam pertempuran, di Daik Lingga dan sekitarnya didirikan kubu-kubu yang kokoh dengan persenjataan lengkap menurut keadaan zamannya, yang terdapat di pulau Mepar, Kubu Bukit Ceneng dan Kubu Kuala Daik.

Makam Bukit Cengkeh

Di Bukit Cengkeh, Daik, terdapat kompleks makam raja-raja Riau-Lingga. Bangunan ini dulunya amat indah, bentuknya segi delapan dengan kubah bergaya arsitektur Turki. Kini makam ini sudah runtuh, yang tersisa hanya sebagian dindingnya dan pagar beton kelilingnya. Di kompleks makam ini terdapat pusara : Sultan Abdurrakhman Syah (1812-1832), beberapa anggota keluarga kerajaan Riau-Lingga. Makam ini tidaklah sulit dicapai karena terletak di pinggir jalan raya, di atas Bukit Cengkeh yang indah pemandangannya.

Makam Merah

Disebut makam merah karena warna cat bangunannya merah, tiangnya terbuat dari besi, pagarnya dari besi dan atapnya seng tebal. Makam ini tidak berdinding dan atapnya berbentuk segi empat melingkari makam. Makam ini letaknya tidaklah berapa jauh dari bekas istana Damnah.

Makam ini terkenal bukanlah karena bangunan makamnya, tetapi karena yang dimakamkan disini adalah Raja Muhammad Yusuf Yang Dipertuan Muda Riau X.

Rumah Datuk Laksemana Daik

Bangunan tua ini terletak di kampung Bugis, berbentuk limas penuh. Rumah ini selain pernah ditempati oleh Datuk Laksemana Daik,pernah pula ditempati oleh Datuk Kaya pulau Mepar, karena beliau ini menantu Datuk Laksemana. Rumah ini masih agak baik dan ditempati oleh keluarga Datuk Laksemana dan Datuk Kaya Daik.

Di rumah ini masih tersimpan sisa-sisa benda milik Datuk Laksemana dan Datuk Kaya, seperti : beberapa jenis pakatan kebesaran Datuk Kaya dan Datuk Laksemana, benda-benda upacara adat, motifmotif tenunan, batik, ukiran-ukiran dan sebagainya.

source : http://www.riau.go.id

Enjoyed reading my blog? Subscribe to my blog via Email!

Related Posts:

27 Comments »

Comment by rajabasir Subscribed to comments via email
2007-04-01 19:44:57

saya cukup rindu pulau daik dan tak perna ke sana.ibu Tengku asmah bt Tengku jaffar anak jatibugis daik tapi saya tak tahu suadara mara saya di sana. kalau ada sesiapa di sana tahu ibu saya, boleh hubungi saya hp/ 9385 3610 di singapura atau email; rajabasir@yahoo.com

 
Comment by rajabasir Subscribed to comments via email
2007-04-21 23:35:12

i rajabasir would like to find my mother Tengku Asmah bte Tengku jaffar generation from daik if any one know ls contact h/p 9385 3610 emil rajabasir@yahoo.com

 
Comment by maza Subscribed to comments via email
2007-08-06 14:39:02

saya amat berminat ttg sejarah lampau….

terutama yang berkaitan dengan kesultanan Melayu Johor dan Melaka.

Dan ayah saya juga pernah menyatakan keturunan kami pernah berkhidmat kepada sultan untuk sekian kali lamanya.. Keturunan kami bergelar Laksamana dan ada juga berdarah Bugis.

Itu semua tinggal sejarah dan kenangan. Ayah saya banyak merahsiakn tentang keturunan beliau. Begitu juga dengan saudara mara yang lain.

Katanya, biarlah yang lalu terus berlalu…

hmm.. barangkali hal ini disebabkan rasa kecewa… Keluarga kami juga ada kaitan dengan Kesultanan Johor. Tetapi masing-masing sudah membawa diri..

Kini saya hidup terkapai-kapai tanpa mengethui asal usul sebenar..
hmm

Dari itu, salam perkenalan..

by maza

 
Comment by mat Subscribed to comments via email
2007-10-23 08:35:14

A’kum wbrt, saya dan keluarga merancang utk ke daik pada 20 november ini dan sekiranya ada sesiapa yg boleh memberi info mengenai salasia keluarga Ahmad Bin Duamat silalah menghubungi saya ditalian +60129123483 atau email Jebatlawa@Yahoo.com.. oleh kerana ini pemergian pertama kami ke daik saya juga memerlukan info2 tentang hotel2 dan tempat2 bersejarah.

Comment by amsakar achmad Subscribed to comments via email
2008-06-23 23:06:23

Asslm’alaikum Wb. Wb, saya tertarik membaca comment encik yang berencana mau berkunjung ke daik. Sayangnya waktu yg encik rencanakan telah berlalu. Jika memang encik serius ke Daik, saya siap membantu sekedar memberikan gambaran mengenai daerah itu.

Hotel di Daik masih sangat terbatas, tapi mengenai tempat bersejarah cukup banyak: ada makam raja-raja, istana damnah, istana 44, dan berbagai hal lainnya. Jika memang encik berkenan ke Daik sila call saya di +608117003627 atau ke email saya amsakar1968@yahoo.com

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.
amsakar achmad (batam)

 
 
Comment by hardianto Subscribed to comments via email
2007-11-16 20:43:16

saya adalah putra daerah lingga,saya merupakan cucu dari ahmad yang tinggal di kampung budus.saya keturunan orang peri di gunung daek.alhamdulillah saya sekarang kuliah di bandung,sudah beberapa tahun saya tidak pulang ke daek,saya sangat merindukan daek,terutama keluarga besar saya.bagi para pembaca kalau bertemu atau ke budus.tolong sampaikan salam kangen saya untuk kakek tercinta.semua orang budus kenal kakek saya kok.

Comment by Ferhat Bintan Subscribed to comments via email
2008-01-22 14:32:25

Dear Hardianto,

Semoga awak tak lupe dengan kampong halaman serta asal muasal jika nanti sudah sukses menjadi orang, untuk itu saya sarankan selalu lah menjalin silaturahim dengan sesama orang sekampong yang ade di perantauan. Di Jakarta setiap tahun selalu ade acara halal bi halal warga Kepri setiap 2 minggu setelah lebaran, di Bandung juga ade Perkumpulan Kerabat Kepulauan Riau.

Saudara alm. Bapak saye ade di Dabo Singkep dan Senayang, dan di Senayang juga ade teman saye sewaktu di SMP dulu, die pindah dari Tanjung Pinang ke Senayang.

Saye pikir itu yang dapat saya sarankan dan infokan, semoga berkenan.

Salam,
Ferhat Bintan

 
 
Comment by HERRY Subscribed to comments via email
2007-11-20 17:30:23

bantu saya mendapatkan informasi tentang sejarah kejayaan Lingga……….. please.

saya sangat berterima kasih kepada siapa saja yang mau membantu saya.

herry chandra.

Comment by saiddailani Subscribed to comments via email
2007-12-10 15:36:54

klu ada yang bersedia, tolonglah saya, karena saya juga keturunan orang Daik Lingga. menurut cerita datuk saya, kakek buyut saya adalah “Tuan Tahak”. dimasa kerajaan Lingga masih jaya, buyut saya adalah seorang “hulubalang raja”. Bila ada yang tahu, atau sanak famili yang tahu silsilahnya dengan kerendahan hati saya mohon kirim untuk kami di Pekanbaru Riau. atau HP 081365401874.

 
 
Comment by saiddailani Subscribed to comments via email
2007-12-10 15:52:48

saya senang sekali, bila ada yang bantu saya mencari jejak nenek moyang saya” TUAN TAHAK”. Menurut cerita ayah saya, beliau adalah salah seorang “HULUBALANG” dan berkhidmad pada sultan lingga dimasa jayanya.Saya ingin sekali datang ke Daik, ingin melihat kuburannya, kata orang dia keramat. Bila ada anak cucunya yang lain yang ada di kepulawan Riau, johor dan dimana-mana tempat berdiazvora, saya mohon kita bersama eratkan ukhuah islamiyah, demi persatuan leluhur kita. bila ada yang sudi kiranya berinteraksi dengan saya hubungi HP 081365401874

 
Comment by Ismu Surizan
2007-12-10 16:03:47

terime kaseh pade semue yg dah komen di blog saye ni … hanye mintak maaf banyak2 sebab tak dapat nak bantu cari silsilah segale macam tu …

mudah2an ade pembace yg laen yg bise membantu pakcik semue :)

 
Comment by maza Subscribed to comments via email
2007-12-10 16:16:54

entahnya….saya pun tak pasti mana datangnya asal-usul saya…. tetapi saya percaya saya ini berketurunan darah campuran….

Buat masa sekarang saya tidak ambil hirau sangat tentang hal itu…

Sungguhpun demikian, saya amat berbesar hati untuk mengenali generasi Riau Lingga dan Daik sekali….

Bak pantun orang lama dahulu..

Pulau Pandan Jauh ke tengah
Gunung Daik Bercabang Tiga
Hancur Badan di kandung tanah
Budi yang baik dikenang jua

Comment by Ismu Surizan
2007-12-10 16:29:08

seingat saye … pantun tu bukan pulau daik bercabang tiga …
tapi “gunung daik bercabang tiga” :D

 
Comment by Ismu Surizan
2007-12-10 21:08:38

@maza,
revised as requested :D

 
 
Comment by Alexander Hamilton Subscribed to comments via email
2007-12-24 01:51:34

Assalamualikum …
Senang bisa membaca tulisan ini mengenai sejarah melayu Lingga yang pudar, sehingga banyak keturunan muda Melayu Lingga berusaha mencari asal usul nenek moyangnya.. Insya Allah akan mempertemukannya..
Bila kita mau berhubungan kita bisa saling membantu silahturahmi ===
email ( alexander_hamiton01@yahoo.com )

Salam
Encik Alexander Hamilton

Wss’

 
Comment by R.Sartika Isniwati Subscribed to comments via email
2008-02-16 14:19:26

Saya Adlh Putri dari seorang ayah yang tidak bertanggungjawab.karena dia tidak menginginkan putri tetapi,seorang putera.karena itu dia ingin menjual saya,oleh sebab itu karena mempertahankan saya ibu saya rela bercerai dari ayah saya tersebut.

salam

R.sartika isniwati

 
Comment by R.Sartika Isniwati Subscribed to comments via email
2008-02-16 14:25:51

saya Ingin sekali bertemu ayah saya karena 20 thun sudah saya terpisah dari nya.yang saya ketahui Paman Saya bernama Raja Mahmud,atau biasa dipanggil raja Mud ayah saya mempunyai Toko Emas.Bagi Anda yang mengenal Dengan Ayah atau pun yang berhubungan dengan keluarga ayah saya,Saya sangat berharap Anda dapat membantu saya untuk mempertemukan saya dengan ayah saya.Kalau tidak bertemu pun tidak apa - apa yang penting saya dapat berkomunikasi dengan ayah saya.Anda dpat menghubungi saya di no ini 08127660525.karena bantuan Anda sangat saya harap kan.

salam

R.Sartika Isniwati

Comment by Tengku Deddy Israr Subscribed to comments via email
2008-07-04 00:10:05

Ass R. Sartika, saye bekenan menules surat dengan awak kirenye mungken saye dapat membantu siket ape yang awak susahkan saat ini. Tentang Bapak awak yg bername R. Mud yang kalau betol pernah berjualan mas saye rase sekarang ni beliau sudah pindah dari Dabo Singkep ke Malaysia, saye dapat kabar di Malaysia beliau sekarang berusahe jualan baju dan dapat beritenye juge usahenye di Malaysia sane sanggat lah maju. Mungken ini yg saye dapat bantu untuk awak

Salam Hormat Saye,

Tengku Deddy Israr

 
 
Comment by Reena Subscribed to comments via email
2008-04-28 10:24:04

Ingin tahu raja mana yang telah diusir dari Daik dan telah lari ke Tanah Melayu? Kerana itu mungkin datuk atau moyang kepada datuk saya. Datuk saya pernah ke Daik dan dikhabarkan disambut dengan kain kuning.

Comment by Fry Subscribed to comments via email
2008-05-04 00:23:58

Siapa nama datuk anda reena? Saya dengar khabar Raja Akik namanya. Makamnya di Singapura..masih ada lagi. Saya pun keturunan diraja daik. Awk tinggal di mana?

 
 
Comment by mat Subscribed to comments via email
2008-05-04 12:45:49

A’kum wbrt, kepada sesiapa yg tahu mengenai salasiah keluarga keturunan saya d daek sila hubungi email saya utk penjelasan lanjut…datuk saya bernama Ahmad merantau dr daek kt pontian, johor dan bapanya bernama Duamat memang penduduk asli lingga…sebarang maklumat mengenai keluarga AHMAD BIN DUAMAT amatlah dialu-alukan.tq

 
Comment by tamboshippies Subscribed to comments via email
2008-06-02 01:58:36

Assalam mualikumm…
Teruslah berkarya…sesama anak watan daik kita harus terus berbuat untuk tanah bonda tercinta ini dengan apa yangkita bise.
Wss

 
Comment by Jebon Subscribed to comments via email
2008-06-27 11:23:55

Saye putra singkep, Tahun 1992 saye meninggalkan singkep. kini seye sangat berminat dengan budaye melayu, ape-ape yang telah awak sampaikan ini dapat membantu saye untuk menulis tentang lingga. Pada tahun 1992 juga saye pernah berkunjung ke daik, ape2 yang telah awak sampaikan juga pernah saye kunjungi. Tapi itu dahulu waktu saye SMP, kini semunya telah berubah. siape2 yang meiliki informasi tentang lingga, Sejarah Melayu kirenya dapat membatu saye dalam menyelesaikan Buku yang sedang sayae buat.

 
Comment by Jebon Subscribed to comments via email
2008-06-27 11:27:11

MAnatap

 
Comment by herman Subscribed to comments via email
2008-06-27 15:26:16

Asalamualaikum wr.wrb,
Saya pernah melihat tapak bekas ka Agungan Kerjaaan Lingga di pulau Penyengat, seterusnya saya mendapat kabar bahwa pada waktu itu telah didatangkan orang dari jawa untuk membangun landskap (pertamanan) .Dalam waktu bersamaan di Istana Lingga juga didatangan penari dan gemelan jawa sebagai kesenian kelangenan para bangsawan, kemudian pada tahun1811 gamelan dan penari tersebut dibwa ke Pahang (Malaysia).
Saya sangat tertarik dengan berita ini maka dalam kesempatan ini, saya ingin minta bantuan para pengujung situs ini, sekiranya dapat melengkapkan atau memberikan data sejarah yang lebih lengkap mengenai gamelan di Istana Lingga.
Hal ini sangat berguna untuk memberikan informasi yang lengkap tentang sejarah kedatangan gamelan ke Malaysia.
Atas perhatiannya saya ucapkan banyak terimakasih.

Wasalam wr.wrb,
Herman.
dwionoh@yahoo.com

 
Comment by sharol Subscribed to comments via email
2008-07-05 08:44:10

Assalamualaikum wbt.

Saya pun ada juga sedara mara di Daik. Kalau bercakap dengan nenek saya selalu jer kuar citer tentang Daik. Arwah moyang dulu asal dari daik kemudian hijrah ke Pontianak. Dari Pontianak ke Terengganu. Nenek dan arwah atuk asal dari keluarga Ba Alawi Al-Yahya. Dua orang bapa saudara (paman) masih lagi biasa berhubung dengan saudara mara disana. Satu lagi saya rasa orang Riau kena lah mengekalkan dialek Bahasa Melayu mereka kerana bahasa mereka bahasa asal Melayu. Bukan bahasa Malaysia atau Indonesia tapi ibu kepada kesemua bahasa Melayu di dunia ini… Sekian, hanya mencoret sedikit pendapat.

 
Comment by zueadna Subscribed to comments via email
2008-08-13 21:08:31

Assalamualaikum wbt,

Arwah ibu saya pun berasal dari Daik. Semasa hidupnya pernah arwah menyebut tentang saudara mara di Daik. Rasa kesal saya tidak menanya lebih lanjut tentang tempat2 nenek moyang dan saudara mara di sana. Insyaallah jika panjang umur dan murah rezeki, ingin saya membuat lawatan ke sana.

 

Add Comment

Please note that your comment will not be available immediately as I will moderate all comments. So please be patience. You do not need to post comments twice. The moderation process can help me fight against spammers. Thanks.

« Gurindam 12 . Gaya Berciuman Berdasarkan Zodiak »