<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ismu Surizan .com &#187; Melayu</title>
	<atom:link href="http://www.ismusurizan.com/category/melayu/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ismusurizan.com</link>
	<description>Welcome to My Cyber Empire</description>
	<lastBuildDate>Sun, 20 Sep 2009 03:22:07 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Daik Lingga</title>
		<link>http://www.ismusurizan.com/daik-lingga/</link>
		<comments>http://www.ismusurizan.com/daik-lingga/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Nov 2006 05:56:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ismu Surizan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Melayu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ismusurizan.com/2006/11/28/daik-lingga/</guid>
		<description><![CDATA[Daik (Bekas Pusat Kerajaan Riau Lingga)
Daik, dahulunya hampir selama seratus tahun menjadi pusat kerajaan Riau-Lingga, sekarang menjadi ibu kota Kecamatan Lingga, Kabupaten Kepulauan Riau.
Kota Daik yang terletak di sungai Daik, hanya dapat dilalui perahu atau kapal motor di waktu air pasang. Kalau air surut, sungai Daik mengering dan tak dapat dilalui. Perhubungan lainnya adalah melalui [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Daik (Bekas Pusat Kerajaan Riau Lingga)</strong></p>
<p>Daik, dahulunya hampir selama seratus tahun menjadi pusat kerajaan Riau-Lingga, sekarang menjadi ibu kota Kecamatan Lingga, Kabupaten Kepulauan Riau.</p>
<p>Kota Daik yang terletak di sungai Daik, hanya dapat dilalui perahu atau kapal motor di waktu air pasang. Kalau air surut, sungai Daik mengering dan tak dapat dilalui. Perhubungan lainnya adalah melalui jalan darat ke desa Resun di sungai Resun. Dari sana melalui sungai itu terus ke muara (Pancur) yang terletak di pantai utara pulau Lingga, berseberangan dengan Senayang.</p>
<p>Selama seratus tahun Daik menjadi pusat kerajaan, tentulah terdapat berbagai peninggalan sejarah dan sebagainya. Raja-raja kerajaan Riau-Lingga yang memerintah kerajaan selama periode pusat kerajaan di Daik Lingga yaitu : Sultan Abdurakhman Syah (1812-1832), Sultan Muhammad Syah (1832-1841), Sultan Mahmud Muzafar Syah (1841-1857), Sultan Sulalman Badrul Alam Syah II (1857-1883) dan Sultan Abdurrakhman Muazzam Syah (1883-1911).</p>
<p><strong>Mesjid Jamik Daik</strong></p>
<p>Mesjid Jamik terletak di kampung Darat, Daik Lingga, dibangun pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Riayat Syah (1761-1812) pada masa awal beliau memindahkan pusat kerajaan dari Bintan ke Lingga. Sumber tempatan menyebutkan bahwa bangunan mesjid ini dimulai sekitar tahun 1803, dimana bangunan aslinya seluruhnya terbuat dari kayu. Kemudian setelah Mesjid Penyengat selesai dibangun, maka bangunan Mesjid Jamik ini dirombak dan dibangun lagi dari beton.</p>
<p>Mesjid ini di dalam ruang utamanya tidaklah mempergunakan tiang penyangga kubah atau lotengnya. Pada mimbarnya terdapat tulisan yang terpahat dalam aksara Arab-Melayu (Jawi), berisi : &#8220;Muhammad SAW. Pada 1212 H hari bulan Rabiul Awal kepada hari Isnen membuat mimbar di dalam negeri Semarang Tammatulkalam.&#8221; Tulisan ini memberi petunjuk, bahwa mimbar yang indah ini dibuat di Semarang, Jawa Tengah dengan memasukan motif-motif ukiran tradisional Melayu.</p>
<p><span id="more-30"></span><!--adsense#floatright--></p>
<p><strong>Bekas Istana Damnah</strong></p>
<p>Yang tersisa dari bangunan yang dahulunya sangat megah ini hanyalah tangga muka, tiang-tiang dari sebahagian tembok pagarnya yang seluruhnya terbuat dari beton. Sekarang puing istana ini terletak dalam hutan belantara yang disebut kampung Damnah.</p>
<p>Istana Damnah didirikan oleh Raja Muhammad Yusuf AI-Ahmadi, Yang Dipertuan Muda Riau X (1857-1899). Dalam tahun 1860 olehnya didirikan istana Damnah untuk kediaman Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah II, dimana sebelumnya Sultan ini di Istana Kota Baru tak berjauhan dari pabrik sagu yang didirikannya.</p>
<p><strong>Gedung Bilik 44</strong></p>
<p>Yang disebut gedung bilik 44 adalah pondasi gedung yang akan dibangun oleh Sultan Mahmud Muzafar Syah. Gedung ini baru dikerjakan pondasinya saja karena Sultan keburu dipecat Belanda tahun 1812. Lokasinya terletak di lereng gunung Daik.</p>
<p>Walaupun gedung ini belum sempat berdiri, tetapi dari pondasinya yang berjumlah 44 itu sudah dapat kita bayangkan betapa besarnya minat Sultan Mahmud untuk membangun negerinya. Di gedung ini, menurut rencana Sultan akan ditempatkan para pengrajin yang ada di kerajaan Riau-Lingga, supaya mereka dapat bekerja lebih tenang serta mengembangkan keahliannya. Namun cita-cita Sultan Mahmud terkandas oleh penjajah asing.</p>
<p><strong>Kubu Pertahanan</strong></p>
<p>Daik sebagai pusat kerajaan Riau-Lingga tentulah memerlukan pengawalan ketat. Perairan selat Malaka yang masa silam selalu ramai dengan desingan peluru dan asap mesiu. Untuk menjaga berbagai kemungkinan dalam pertempuran, di Daik Lingga dan sekitarnya didirikan kubu-kubu yang kokoh dengan persenjataan lengkap menurut keadaan zamannya, yang terdapat di pulau Mepar, Kubu Bukit Ceneng dan Kubu Kuala Daik.</p>
<p><strong>Makam Bukit Cengkeh</strong></p>
<p>Di Bukit Cengkeh, Daik, terdapat kompleks makam raja-raja Riau-Lingga. Bangunan ini dulunya amat indah, bentuknya segi delapan dengan kubah bergaya arsitektur Turki. Kini makam ini sudah runtuh, yang tersisa hanya sebagian dindingnya dan pagar beton kelilingnya. Di kompleks makam ini terdapat pusara : Sultan Abdurrakhman Syah (1812-1832), beberapa anggota keluarga kerajaan Riau-Lingga. Makam ini tidaklah sulit dicapai karena terletak di pinggir jalan raya, di atas Bukit Cengkeh yang indah pemandangannya.</p>
<p><strong>Makam Merah</strong></p>
<p>Disebut makam merah karena warna cat bangunannya merah, tiangnya terbuat dari besi, pagarnya dari besi dan atapnya seng tebal. Makam ini tidak berdinding dan atapnya berbentuk segi empat melingkari makam. Makam ini letaknya tidaklah berapa jauh dari bekas istana Damnah.</p>
<p>Makam ini terkenal bukanlah karena bangunan makamnya, tetapi karena yang dimakamkan disini adalah Raja Muhammad Yusuf Yang Dipertuan Muda Riau X.</p>
<p><strong>Rumah Datuk Laksemana Daik</strong></p>
<p>Bangunan tua ini terletak di kampung Bugis, berbentuk limas penuh. Rumah ini selain pernah ditempati oleh Datuk Laksemana Daik,pernah pula ditempati oleh Datuk Kaya pulau Mepar, karena beliau ini menantu Datuk Laksemana. Rumah ini masih agak baik dan ditempati oleh keluarga Datuk Laksemana dan Datuk Kaya Daik.</p>
<p>Di rumah ini masih tersimpan sisa-sisa benda milik Datuk Laksemana dan Datuk Kaya, seperti : beberapa jenis pakatan kebesaran Datuk Kaya dan Datuk Laksemana, benda-benda upacara adat, motifmotif tenunan, batik, ukiran-ukiran dan sebagainya.</p>
<p>source : <a href="http://www.riau.go.id" target="_blank">http://www.riau.go.id</a></p>
<img src="http://www.ismusurizan.com/?ak_action=api_record_view&id=30&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ismusurizan.com/daik-lingga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>57</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gurindam 12</title>
		<link>http://www.ismusurizan.com/gurindam-12/</link>
		<comments>http://www.ismusurizan.com/gurindam-12/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Nov 2006 05:46:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ismu Surizan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Melayu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ismusurizan.com/2006/11/28/gurindam-12/</guid>
		<description><![CDATA[INILAH GURINDAM DUABELAS NAMANYA

Segala puji bagi Tuhan seru sekalian alam serta shalawatnya Nabi yang akhirul jaman serta keluarganya dan sahabatnya sekalian adanya. Amma ba&#8217;du daripada itu maka tatkala sampailah Hijratun Nabi 1263 Sanah kepada dua puluh tiga hari bulan Rajab hari Selasa mana telah ta&#8217;ali kepada kita yaitu Raja Ali Haji mengarang satu gurindam cara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>INILAH GURINDAM DUABELAS NAMANYA</p>
<p><!--adsense#floatright--></p>
<p>Segala puji bagi Tuhan seru sekalian alam serta shalawatnya Nabi yang akhirul jaman serta keluarganya dan sahabatnya sekalian adanya. Amma ba&#8217;du daripada itu maka tatkala sampailah Hijratun Nabi 1263 Sanah kepada dua puluh tiga hari bulan Rajab hari Selasa mana telah ta&#8217;ali kepada kita yaitu Raja Ali Haji mengarang satu gurindam cara Melayu yaitu yang boleh juga jadi diambil faedah sedikit-sedikit daripada perkataannya itu pada orang yang ada menaruh akal maka adalah banyaknya gurindam itu hanya duabelas pasal di dalamnya.</p>
<p>Syahdan</p>
<p>Adalah beda antara gurindam dengan syair itu aku nyatakan pula bermula arti syair Melayu itu perkataan yang bersajak yang serupa dua berpasang pada akhirnya dan tiada berkehendak pada sempurna perkataan pada satu-satu pasangnya bersalahan dengan gurindam. Adapun arti gurindam itu yaitu perkataan yang bersajak juga pada akhir pasangannya tetapi sempurna perkataannya dengan satu pasangannya sahaja jadilah seperti sajak yang pertama itu syarat dan sajak yang kedua itu jadi seperti jawab.</p>
<p>Bermula inilah rupanya syair.</p>
<p>Dengarkan tuan suatu rencana<br />
Mengarang di dalam gundah gulana<br />
Barangkali gurindam kurang kena<br />
Tuan betulkan dengan sempurna</p>
<p>Inilah arti gurindam yang di bawah syatar ini</p>
<p>Persamaan yang indah-indah<br />
Yaitu ilmu yang memberi faedah<br />
Aku hendak bertutur<br />
Akan gurindam yang beratur</p>
<p><span id="more-29"></span>INI GURINDAM PASAL YANG PERTAMA</p>
<p>Barang siapa tiada memegang agama<br />
Segala-gala tiada boleh dibilang nama</p>
<p>Barang siapa mengenal yang empat<br />
Maka yaitulah orang yang ma&#8217;rifat</p>
<p>Barang siapa mengenal Allah<br />
Suruh dan tegaknya tiada ia menyalah</p>
<p>Barang siapa mengenal diri<br />
Maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri</p>
<p>Barang siapa mengenal dunia<br />
Tahulah ia barang yang terpedaya</p>
<p>Barang siapa mengenal akhirat<br />
Tahulah ia dunia mudharat</p>
<p>INI GURINDAM PASAL YANG KEDUA</p>
<p>Barang siapa mengenal yang tersebut<br />
Tahulah ia makna takut</p>
<p>Barang siapa meninggalkan sembahyang<br />
Seperti rumah tiada bertiang</p>
<p>Barang siapa meninggalkan puasa<br />
Tidaklah mendapat dua termasa</p>
<p>Barang siapa meninggalkan zakat<br />
Tiadalah hartanya beroleh berkat</p>
<p>Barang siapa meninggalkan haji<br />
Tiadalah ia menyempurnakan janji</p>
<p>INI GURINDAM PASAL YANG KETIGA</p>
<p>Apabila terpelihara mata<br />
Sedikitlah cita-cita</p>
<p>Apabila terpelihara kuping<br />
Khabar yang jahat tiadalah damping</p>
<p>Apabila terpelihara lidah<br />
Niscaya dapat daripadanya faedah</p>
<p>Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan<br />
Daripada segala berat dan ringan</p>
<p>Apabila perut terlalu penuh<br />
Keluarlah fi&#8217;il yang tidak senonoh</p>
<p>Anggota tengah hendaklah ingat<br />
Di situlah banyak orang yang hilang semangat</p>
<p>Hendaklah peliharakan kaki<br />
Daripada berjalan yang membawa rugi</p>
<p>INI GURINDAM PASAL YANG KEEMPAT</p>
<p>Hati itu kerajaan di dalam tubuh<br />
Jikalau zalim segala anggota tubuh pun rubuh</p>
<p>Apabila dengki sudah bertanah<br />
Datanglah daripadanya beberapa anak panah</p>
<p>Mengumpat dam memuji hendaklah pikir<br />
Di situlah banyak orang yang tergelincir</p>
<p>Pekerjaan marah jangan dibela<br />
Nanti hilang akal di kepala</p>
<p>Jika sedikitpun berbuat bohong<br />
Boleh diumpamakan mulutnya itu pekung</p>
<p>Tanda orang yang amat celaka<br />
Aib dirinya tiada ia sangka</p>
<p>Bakhil jangan diberi singgah<br />
Itulah perompak yang amat gagah</p>
<p>Barang siapa yang sudah besar<br />
Janganlah kelakuannya membuat kasar</p>
<p>Barang siapa perkataan kotor<br />
Mulutnya itu umpama ketor</p>
<p>Di manakah salah diri<br />
Jika tidak orang lain yang berperi</p>
<p>Pekerjaan takbur jangan direpih<br />
Sebelum mati didapat juga sepih</p>
<p>INI GURINDAM PASAL YANG KELIMA</p>
<p>Jika hendak mengenal orang berbangsa<br />
Lihat kepada budi dan bahasa</p>
<p>Jika hendak mengenal orang yang berbahagia<br />
Sangat memeliharakan yang sia-sia</p>
<p>Jika hendak mengenal orang mulia<br />
Lihatlah kepada kelakuan dia</p>
<p>Jika hendak mengenal orang yang berilmu<br />
Bertanya dan belajar tiadalah jemu</p>
<p>Jika hendak mengenal orang yang berakal<br />
Di dalam dunia mengambil bekal</p>
<p>Jika hendak mengenal orang yang baik perangai<br />
Lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai</p>
<p>INI GURINDAM PASAL YANG KEENAM</p>
<p>Cahari olehmu akan sahabat<br />
Yang boleh dijadikan obat</p>
<p>Cahari olehmu akan guru<br />
Yang boleh tahukan tiap seteru</p>
<p>Cahari olehmu akan isteri<br />
Yang boleh menyerahkan diri</p>
<p>Cahari olehmu akan kawan<br />
Pilih segala orang yang setiawan</p>
<p>Cahari olehmu akan abdi<br />
Yang ada baik sedikit budi</p>
<p>INI GURINDAM PASAL YANG KETUJUH</p>
<p>Apabila banyak berkata-kata<br />
Di situlah jalan masuk dusta</p>
<p>Apabila banyak berlebih-lebihan suka<br />
Itu tanda hampirkan duka</p>
<p>Apabila kita kurang siasat<br />
Itulah tanda pekerjaan hendak sesat</p>
<p>Apabila anak tidak dilatih<br />
Jika besar bapanya letih</p>
<p>Apabila banyak mencacat orang<br />
Itulah tanda dirinya kurang</p>
<p>Apabila orang yang banyak tidur<br />
Sia-sia sajalah umur</p>
<p>Apabila mendengar akan kabar<br />
Menerimanya itu hendaklah sabar</p>
<p>Apabila mendengar akan aduan<br />
Membicarakannya itu hendaklah cemburuan</p>
<p>Apabila perkataan yang lemah lembut<br />
Lekaslah segala orang mengikut</p>
<p>Apabila perkataan yang amat kasar<br />
Lekaslah orang sekalian gusar</p>
<p>Apabila pekerjaan yang amat benar<br />
Tidak boleh orang berbuat onar</p>
<p>INI GURINDAM PASAL YANG KEDELAPAN</p>
<p>Barang siapa khianat akan dirinya<br />
Apalagi kepada lainnya</p>
<p>Kepada dirinya ia aniaya<br />
Orang itu jangan engkau percaya</p>
<p>Lidah suka membenarkan dirinya<br />
Daripada yang lain dapat kesalahannya</p>
<p>Daripada memuji diri hendaklah sabar<br />
Biar daripada orang datangnya kabar</p>
<p>Orang yang suka menampakkan jasa<br />
Setengah daripadanya syirik mengaku kuasa</p>
<p>Kejahatan diri disembunyikan<br />
Kebajikan diri diamkan</p>
<p>Ke&#8217;aiban orang jangan dibuka<br />
Ke&#8217;aiban diri hendaklah sangka</p>
<p>INI GURINDAM PASAL YANG KESEMBILAN</p>
<p>Tahu pekerjaan tak baik tetapi dikerjakan<br />
Bukannya manusia yaitulah syaitan</p>
<p>Kejahatan seorang perempuan tua<br />
Itulah iblis punya penggawa</p>
<p>Kepada segala hamba-hamba raja<br />
Di situlah syaitan tempatnya manja</p>
<p>Kebanyakan orang yang muda-muda<br />
Di situlah syaitan tempat bergoda</p>
<p>Perkumpulan laki-laki dengan perempuan<br />
Di situlah syaitan punya jamuan</p>
<p>Adapun orang tua(h) yang hemat<br />
Syaitan tak suka membuat sahabat</p>
<p>Jika orang muda kuat berguru<br />
Dengan syaitan jadi berseteru</p>
<p>INI GURINDAM PASAL YANG KESEPULUH</p>
<p>Dengan bapa jangan derhaka<br />
Supaya Allah tidak murka</p>
<p>Dengan ibu hendaklah hormat<br />
Supaya badan dapat selamat</p>
<p>Dengan anak janganlah lalai<br />
Supaya boleh naik ke tengah balai</p>
<p>Dengan kawan hendaklah adil<br />
Supaya tangannya jadi kapil</p>
<p>INI GURINDAM PASAL YANG KESEBELAS</p>
<p>Hendaklah berjasa<br />
Kepada yang sebangsa</p>
<p>Hendak jadi kepala<br />
Buang perangai yang cela</p>
<p>Hendaklah memegang amanat<br />
Buanglah khianat</p>
<p>Hendak marah<br />
Dahulukan hujjah</p>
<p>Hendak dimalui<br />
Jangan memalui</p>
<p>Hendak ramai<br />
Murahkan perangai</p>
<p>INI GURINDAM PASAL YANG KEDUABELAS</p>
<p>Raja mufakat dengan menteri<br />
Seperti kebun berpagarkan duri</p>
<p>Betul hati kepada raja<br />
Tanda jadi sebarang kerja</p>
<p>Hukum adil atas rakyat<br />
Tanda raja beroleh inayat</p>
<p>Kasihkan orang yang berilmu<br />
Tanda rahmat atas dirimu</p>
<p>Hormat akan orang yang pandai<br />
Tanda mengenal kasa dan cindai</p>
<p>Ingatkan dirinya mati<br />
Itulah asal berbuat bakti</p>
<p>Akhirat itu terlalu nyata<br />
Kepada hati yang tidak buta</p>
<p>Tamatlah gurindam yang duabelas pasal yaitu karangan kita Raja Ali Haji pada tahun Hijrah Nabi kita seribu dua ratus enam puluh tiga kepada tiga likur hari bulan Rajab Selasa jam pukul lima Negeri Riau Pulau Penyengat</p>
<img src="http://www.ismusurizan.com/?ak_action=api_record_view&id=29&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ismusurizan.com/gurindam-12/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pulau Penyengat</title>
		<link>http://www.ismusurizan.com/pulau-penyengat/</link>
		<comments>http://www.ismusurizan.com/pulau-penyengat/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Nov 2006 05:40:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ismu Surizan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Melayu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ismusurizan.com/2006/11/28/pulau-penyengat/</guid>
		<description><![CDATA[Makam Engku Putri
Makam Engku Putri Permaisuri Sultan Mahmud ini terletak di pulau Penyengat Indra Sakti. Pulau Penyengat adalah milik Engku Putri, karena pulau ini dihadiahkan suaminya Sultan Mahmud Syah sebagai mas kawinnya sekitar tahun 1801-1802. Selain itu Engku Putri adalah pemegang regalia kerajaan Riau.
Bangunan makam terbuat dari beton, dikelilingi oleh pagar tembok pada tempat yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Makam Engku Putri</strong></p>
<p>Makam Engku Putri Permaisuri Sultan Mahmud ini terletak di pulau Penyengat Indra Sakti. Pulau Penyengat adalah milik Engku Putri, karena pulau ini dihadiahkan suaminya Sultan Mahmud Syah sebagai mas kawinnya sekitar tahun 1801-1802. Selain itu Engku Putri adalah pemegang regalia kerajaan Riau.</p>
<p>Bangunan makam terbuat dari beton, dikelilingi oleh pagar tembok pada tempat yang ketinggian. Dahulu atap bangunan makam dibuat bertingkat-tingkat dengan hiasan yang indah.</p>
<p>Di kompleks ini terdapat pula makam tokoh-tokoh terkemuka kerajaan Riau, seperti makam Raja Haji Abdullah (Marhum Mursyid)</p>
<p>Yang Dipertuan Muda Riau IX, makam raja Ali Haji, pujangga Riau yang terkenal &#8220;Gurindam Dua Belas&#8221;, makam Raja Haji Abdullah, makam Mahkamah Syariah kerajaan Riau-Lingga, makam Tengku Aisyah Putri &#8211; Yang Dipertuan Muda Riau IX, dan kerabat-kerabat Engku Putri yang lain.</p>
<p>Sejarah Riau mencatat bahwa Engku Putri (Raja Hamidah) adalah putri Raja Syahid Fisabilillah Marhum Teluk Ketapang &#8211; Yang Dipertuan Muda Riau IV &#8211; yang termashur sebagai pahlawan Riau dalam menentang penjajahan Belanda. Sebagai putri tokoh ternama, Engku Putri besar peranannya dalam pemerintahan kerajaan Riau, sebab selain memegang regalia (alat-alat kebesaran kerajaan) beliau adalah permaisuri Sultan Mahmud, dan tangan kanan dari Raja Jaafar &#8211; Yang Dipertuan Muda Riau VI.</p>
<p>Sebagai pemegang regalia kerajaan, beliau sangatlah menentukan dalam penabalan sultan, karena penabalan itu haruslah dengan regalia kerajaan. Engku putri pernah pula melakukan perjalanan ke beberapa daerah lain, seperti ke Sukadana, Mempawah dan lain-lain untuk mempererat tali persaudaraan antara kerajaan Riau dengan kerajaan yang dikunjunginya.</p>
<p>Tokoh ternama dari kerajaan Riau ini mangkat di pulau Penyengat bulan Juli tahun 1884.</p>
<p><strong>Mesjid Raya Sultan Riau</strong></p>
<p style="text-align: center"><img title="Mesjid Raya Sultan Riau" alt="Mesjid Raya Sultan Riau" src="http://www.ismusurizan.com/wp-content/uploads/2006/11/mesjid-raya-sultan-riau.jpg" /></p>
<p><span id="more-5"></span><!--adsense#floatright--></p>
<p>Mesjid yang menjadi kebanggaan orang Melayu Riau ini didirikan pada tanggal 1 Syawal 1249 H (1832 M) atas prakarsa Raja Abdurrahman, Yang Dipertuan Muda Riau VII. Bangunan mesjid ini seluruhnya terbuat dari beton, berukuran 18 x 19,80 meter. Di bagian dalam ruang utama terdapat empat buah tiang utama. Pada keempat sudut bangunan berdiri empat buah menara, sedangkan atapnya terdiri dari 13 buah kubah yang unik. Cerita masyarakat tempatan menyebutkan,untuk membangun mesjid ini, terutama untuk memperkuat beton kubah, menara dan bagian tertentu lainnya, dipergunakan bahan perekat dari campuran putih telur dan kapur. Pelaksanaan pembangunannya melibatkan seluruh lapisan masyarakat di kerajaan Riau, yang bekerja siang malam secara bergiliran.</p>
<p style="text-align: center"><img title="Mesjid Penyengat" alt="Mesjid Penyengat" src="http://www.ismusurizan.com/wp-content/uploads/2006/11/mesjid-penyengat.jpg" /></p>
<p>Di dalam mesjid ini tersimpan pula kitab-kitab kuno (terutama yang menyangkut agama Islam) yang dulunya menjadi koleksi perpustakaan didirikan oleh Raja Muhammad Yusuf AI Ahmadi,Yang Dipertuan Muda Riau X. Benda lain yang menarik dan terdapat dalam mesjid ini adalah mimbarnya yang indah, serta kitab suci AI Qur&#8217;an tulisan tangan.</p>
<p style="text-align: center"><img title="Mesjid Penyengat" alt="Mesjid Penyengat" src="http://www.ismusurizan.com/wp-content/uploads/2006/11/mesjid-penyengat-2.jpg" /></p>
<p><strong>Bekas Gedung Tabib Kerajaan</strong></p>
<p>Sisa gedung Engku Haji Daud ini hanya berupa empat bidang dinding tembok dengan beberapa buah rangka pintu dan jendela. Gedung ini dahulu dikenal dengan sebutan Gedung Engku Haji Daud atau Gedung Tabib Kerajaan, karena beliau adalah Tabib Kerajaan Riau. Bekas gedung ini banyak menarik pengunjung karena disamping peninggalan sejarah juga terletak di tengah kediaman ramai.</p>
<p><strong>Makam Raja Haji</strong></p>
<p>Raja Haji-Yang Dipertuan Muda Riau IV-adalah pahlawan Melayu yang amat termashur. Beliau berperang melawan penjajah Belanda sejak berusia muda sampai akhir hayatnya dalam peperangan hebat di Tetuk Ketapang tahun 1784.</p>
<p style="text-align: center"><img title="Makam Raja Haji" alt="Makam Raja Haji" src="http://www.ismusurizan.com/wp-content/uploads/2006/11/makam-raja-haji.jpg" /></p>
<p>Raja Haji yang hidup antara tahun 1727-1784 itu telah membuktikan dirinya sebagai pemimpin, hulubalang dan ulama. Para penulis sejarah mencatat, terutama pada tahun 1782-1784 cukup berpengaruh terhadap stabilitas sosial politik dan ekonomi di wilayah Nusantara dan negeri-negeri Belanda yang sangat tergantung terhadap sumber perekonomiannya di Timur.</p>
<p>Pihak Belanda bahkan menganggap bahwa perang yang dipimpin Raja Haji adalah peperangan yang cukup besar dan sempat menggoncangkan kedudukan Belanda di Nusantara. Karena kepahlawanannya itulah, Raja Haji diagungkan masyarakat Melayu, disebut dengan gelar Raja Haji Fisabilillah Marhum Teluk Ketapang.</p>
<p>Ketika beliau mangkat dalam peperangan hebat di Teluk Ketapang, jenazahnya kemudian dibawa ke Malaka dan dikebumikan disana. Baru beberapa tahun kemudian jenazah beliau dibawa ke pulau Penyengat dan disemayamkan dalam makam yang terletak di Bukit Selatan pulau Penyengat, bersebelahan dengan makam Habib Syekh, seorang ulama terkemuka di kerajaan Riau-Lingga.</p>
<p><strong>Makam Raja Jaafar</strong></p>
<p>Raja Jaafar &#8211; Yang Dipertuan Muda Riau VI &#8211; adalah putra Raja Haji Sahid Fisabilillah Marhum Teluk Ketapang. Raja Jaafar menjadi Yang Dipertuan Muda Riau VI tahun 1806-1831. Ketika mangkatnya digelar Marhum Kampung Ladi.</p>
<p>Kompleks makam almarhum Raja Jaafar seluruhnya dibuat dari beton, indah dan kokoh. Pada makam ini terdapat pilar-pilar, kubah-kubah dari beton yang dihiasi ornamen yang menarik. Di luar cungkup makam ini, dalam kompleks makam terdapat pula kolam air yang dilengkapi tangga batu tempat berwuduk. Di kompleks makam ini terdapat pula makam-makam keluarga bangsawan lainnya.</p>
<p><strong>Makam Raja Abdurrakhman</strong></p>
<p>Raja Abdurrakhman &#8211; Yang Dipertuan Muda Riau VII &#8211; ketika mangkatnya digelar Marhum Kampung Bulang. Raja Abdurrakhman menjadi Yang Dlpertuan Muda Riau tahun 1832-1844. Beliau terkenal aktif dalam menggalakkan pembangunan di pulau ini, serta taat beribadah. Salah satu hasil upaya beliau yang utama adalah pembangunan Mesjid Raya Penyengat. Karena jasanya itutah, ketika beliau meninggal dunia jenazahnya dikebumikan hanya beberapa ratus meter di bagian belakang mesjid, terdapat pada sebuah lereng bukit.</p>
<p><strong>Bekas Istana Sultan Abdurrakhman Muazzam Syah</strong></p>
<p>Bangunan bekas istana Sultan Riau yang terakhir ini hanya berupa puing-puing belaka dahulu. Istana ini disebut Kedaton, dengan lapangan luas di sekitarnya.</p>
<p>Istana ini mulai rusak sejak Sultan Abdurrakhman Muazzam Syah (1833-1911) meninggalkan Penyengat karena dimusuhi Belanda, akibat sikap beliau menentang pemerintahan Betanda tahun 1911. Beliau segera ke Daik dan bergegas meninggalkan Daik dan untuk selanjutnya bermukim di Singapura sampai akhir hayatnya. Sejak itu istana ini tinggal terlantar dan akhirnya runtuh sama sekali, kini tinggal puingnya.</p>
<p><strong>Bekas Gedung Tengku Bilik</strong></p>
<p>Bangunan ini bertingkat dua, walaupun sudah rusak tapi bentuk aslinya masih kelihatan. Bentuk bangunannya merupakan ciri-ciri kesukaan para bangsawan Melayu akhir abad XIX, karena seni bangunan seperti itu masih ditemui di Singapura (istana Kampung Gelam), di Johor dan tempat-tempat lain di semenanjung Malaysia. Bangunan ini masih ditempati sampai masa Perang Dunia II dan sekarang masih menarik pengunjung yang datang ke pulau Penyengat.</p>
<p style="text-align: center"><img title="Bekas Gedung Tengku Bilik" alt="Bekas Gedung Tengku Bilik" src="http://www.ismusurizan.com/wp-content/uploads/2006/11/bekas-gedung-tengku-bilik.jpg" /></p>
<p>Pemilik gedung ini, yaitu Tengku Bilik, adik sultan Riau terakhir, bersuamikan Tengku Abdul Kadir.</p>
<p><strong>Gudang Mesiu</strong></p>
<p>Tak seberapa jauh dari Mesjid Raya Penyengat terdapat bangunan kecil yang seluruhnya terbuat dari beton, tampak amatlah kokoh dengan temboknya setebal satu hasta dengan jendela-jendela kecil berjeriji besi.</p>
<p>Sesuai dengan namanya, gedung ini dahulunya tempat menyimpan mesiu, yang oleh penduduk di daerah ini disebut obat bedil. Melihat gedung ini akan memberi bayangan betapa siapnya kerajaan Riau &#8211; Lingga dalam menentang penjajahan di negerinya.</p>
<p>Dahulu, menurut cerita tempatan, di pulau ini terdapat empat buah gedung tempat menyimpan mesiu dan kini hanya tinggal satu ini.</p>
<p><strong>Kubu dan Parit Pertahanan</strong></p>
<p>Di Penyengat terdapat kubu dan parit pertahanan kerajaan Riau dalam peperangan melawan Belanda tahun 1782-1784. Kubu-kubu ini terletak di bukit Penggawa, bukit Tengah dan bukit Kursi. Dahulu, kubu-kubu ini seluruhnya dilengkapi dengan meriam dalam berbagai ukuran. Bagi para wisatawan yang berkunjung, kubu ini amatlah menarik, karena selain mengandung nilai sejarah juga pemandangan alam dari kubu-kubu ini sangat indah pula.</p>
<p><strong>Balai Adat Indra Perkasa</strong></p>
<p>Gedung dengan arsitektur tradisional Melayu Kepulauan ini dijadikan Balai Adat untuk memperagakan berbagai bentuk upacara adat Melayu. Letaknya di tepi pantai menghadap laut lepas, amatlah mempesona.</p>
<p>Di dalam gedung ini dapat dilihat tata ruangan dan beberapa benda kelengkapan adat Resam Melayu atau beberapa atraksi kesenian yang diadakan untuk menghormati tamu tertentu.</p>
<p>source : <a href="http://www.riau.go.id">http://www.riau.go.id</a></p>
<img src="http://www.ismusurizan.com/?ak_action=api_record_view&id=5&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ismusurizan.com/pulau-penyengat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
